Categories
Agribisnis

Swasembada “Emas Pipilan”Sarat Catatan

Jagung menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, tahun lalu importasi komoditas seksi itu benar-benar dihentikan. Berbagai kebijakan peningkatan produksi digelar demi mencapai swasembada jagung pada 2017. “Jagung pakan ternak dulu kita impor 3,6 juta ton setara dengan Rp12 triliun. Tahun 2016 turun, 2017 impor kita nol. Yang terjadi hari ini adalah jagung kita sudah ekspor ke Filipina dan sudah swasembada,” ujar Mentan Amran Sulaiman di Jakarta, Rabu (3/1).

Tahun Keemasan

Amran menilai kebijakannya sudah tepat meski bikin gaduh. “Bisa kita tunjukkan animo masyarakat. Kuburan pun ditanami jagung di Gunungkidul (DIY), di Sumatera, Sulawesi terjadi. Di Jeneponto-Sulsel, pegunungan ditanami jagung. Benihnya beli sendiri. Harganya menguntungkan petani sehingga tanam sendiri,” Amran berargumen.

Sholahuddin, Ketua Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI) pun mengungkap minat petani. “Membatasi impor jagung sangat menguntungkan petani karena harganya cenderung stabil, fluktuasinya juga nggak terlalu tinggi. Sehingga, semangat petani untuk menanam jagung 2017 betul-betul bagus,” jelasnya. Bahkan, ia menganggap 2017 sebagai tahun keemasan jagung nasional karena harga dan produksi cenderung bagus.

Menurut Mentan, salah satu pelaksanaan program upaya khusus (Upsus) jagung adalah budidaya jagung di kebun sawit. “Sudah 40 ribu ha tertanam jagung di Sumbar, hanya tiga bulan, sudah 80% dari target 50 ribu ha. Yang dulunya panen rumput di tengah sawit, 3-4 tahun sawit tidak menghasilkan apa-apa, malah membutuhkan uang. Hari ini kita tanam jagung di tengah-tengah sawit.

Kami berikan benih gratis,” imbuhnya. Selain itu, Kementan juga menggandeng Perhutani untuk memanfaatkan lahannya sebagai area tanam jagung. Sumarjo Gatot Irianto, Dirjen Tanaman Pangan, Kementan menyatakan, penanaman jagung naik luar biasa. “Program pemerintah hanya 3 juta ha tapi jagung yang tertanam 7 juta ha karena harganya baik dan impornya ditutup,” katanya.

Angka Ramalan I 2017 BPS pun menyebut produksi jagung mencapai 27,95 juta ton pipilan kering. Tahun ini luas areal tanam baru untuk jagung bertambah menjadi 4 juta ha dengan pemberian bantuan benih dan subsidi pupuk.

Benih Jagung

Subsidi benih yang mencapai 3 juta ha, ungkap salah satu produsen benih terkemuka di Indonesia, membuat situasi bisnis benih jagung sangat tidak kondusif. Proyek bantuan benih jagung hibrida sangat “mengganggu”.

Bahkan, pengusaha yang enggan disebut namanya ini menilai prospek perbenihan 2018 agak suram bagi produsen karena proyek pemerintah masih berlanjut dengan jumlah yang makin besar. Sementara harga yang ditawarkan pemerintah di bawah biaya produksi benih. “Lebih celaka lagi, saat ini impor benih dilarang sehingga varietas baru harus langsung diproduksi di dalam negeri.

Tidak ada kesempatan untuk belajar selama dua tahun yang selama ini diberikan,” paparnya kecewa. Padahal pengembangan jagung sangat membutuhkan temuan varietas baru yang toleran penyakit dan berbagai cekaman. “Jagung, saat ini di Jawa banyak kena penyakit bulai jadi harus varietas yang tahan bulai.

Kemudian untuk lahan kering, harus varietas yang tahan kekeringan karena hujan sangat sulit diramal,” imbuhnya. Di lain pihak, Doddy Wiratmoko, Product Development Senior Manajer PT Bisi International, Tbk. mengatakan, Bisi mengalami peningkatan produksi benih sekitar 30%. Meski, di sisi profit tidak sebesar penjualan di pasar bebas (free market) karena harus mengikuti harga pemerintah. Tahun ini, lanjut dia, Bisi akan meningkatkan kapasitas terpasang pabriknya menjadi 50 ribu ton benih/tahun.

“Tahun lalu produksi benih 30 ribu ton setahun karena kendala, seperti banjir awal 2017, peralihan tanaman ke padi karena banyak hujan, dan persaingan memperoleh lahan tanam karena petani mitra mendapat subisidi benih,” ulasnya. Namun, Doddy mengakui ada penurunan permintaan benih di free market.

“Daerah pegunungan yang sebetulnya sudah menggunakan jagung juga mendapat subsidi karena masuk daerah Perhutani. Otomatis dampak terhadap free market ada. Tapi harapan kita ‘kan tertanam untuk subsidi dan free market,” urai dia.

Tanam dan Panen Berkelanjutan

Menanggapi situasi terkini, Dean Novel, pegiat agribisnis dan petani jagung di Kec. Pringgabaya, Kab. Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, berpendapat, sudah saatnya pemerintah mengalihkan subsidi benih ke pengembangan pascapanen jagung agar jagungnya berkualitas.

Hilirisasi “emas pipilan” itu perlu menggandeng pemda melalui perusahaan daerah yang khusus menangani pascapanen. “Kalau ada gudang, dryer (pengering), dan tertulis dengan spanduk dibeli jagung petani dengan logo jelas, semua akan nanam karena yang belinya ada di situ,” terangnya.

Dean juga menyarankan penerapan budidaya berkelanjutan (continuous farming) di beberapa kabupaten sebagai penghubung (hook). Continuous farming ialah menanam jagung secara berkelanjutan sehingga bisa panen sepanjang waktu. Setiap kabupaten terpilih menerapkan continuous farming di lahan 5.000 ha dengan indeks pertanaman 2,2 setahun. Dengan produktivitas 5 ton/ha saja, satu kabupaten bisa menghasilkan 55 ribu-60 ribu ton jagung pipilan kering per tahun atau sekitar 5.000 ton jagung/bulan.

“Jadi, bikin gudang dengan dryer untuk kapasitas lahan 5.000 ha di beberapa kabupaten yang dianggap bagus dan strategis untuk menyuplai ke pabrik pakan,” ulasnya kepada AGRINA. Lahan 5.000 ha dibagi dalam beberapa klaster sehingga bisa menanam seminggu sekali. Dengan begitu, setiap pekan ada panen guna memenuhi kebutuhan industri pakan.

Lahan continuous farming itu harus dilengkapi sumur bor untuk pengairan karena jagung tetap butuh air. “Satu sumur bor bisa mengairi 25-30 ha. Satu musim tanam bisa 3-4 kali tergantung hujan. Kalau hujan banyak, debitnya cukup, buka sumur bornya nggak 4 kali, diatur pengairannya,” kata pria yang mengembangkan continuous farming sejak 2014 itu.

Prospek 2018

Bicara peluang, Sholahuddin, Doddy, dan Dean sepakat bisnis jagung tahun ini masih sangat prospektif sebab kebutuhan pabrik pakan terus meningkat setiap tahun. “Jadi, tidak khawatirlah jagung akan mengalami kendala.

Pabrik pakan setiap tahun akan nambah kapasitas entah dari pabrik yang sudah existing atau bikin pabrik baru,” seru Dean. Kunci sukses tidaknya program jagung, cetus Sholahuddin, tergantung tekad dan kemauan pemerintah untuk tidak impor. “Kalau pemerintah masih kuat menjaga statement-nya untuk tidak impor, petani akan semakin semangat untuk mengembangkan jagung,” tandasnya.

Di samping itu, ia meminta pemerintah memperbaiki redistribusi lahan Perhutani untuk masyarakat. Fakta di lapangan, lahan Perhutani di Lamongan, Tuban, Mojokerto, dan Gresik, Jatim yang sudah dikuasai petani untuk menanam jagung, justru diambil-alih Perhutani dan diberikan pada korporasi buat menanam tebu.

Petani mendapat ganti rugi Rp5 juta-Rp10 juta/orang. “Jadi redistribusi lahan yang ditargetkan 12 juta ha seluruh Indonesia, secara riil didistribusikan dengan benar. Ini sangat membantu pemerintah mewujudkan sawasembada jagung dan kedelai,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *