Categories
Uncategorized

Yunita Resmi Sari Tidak Henti Memperkaya Diri

Bekerja di lembaga stabilisator keuangan negara selalu penuh kejutan. Sedikit saja gejolak di dalam dan luar negeri, sangat berpengaruh pada perekonomian negara. Kejadian seperti Brexit, kemenangan Trump, hingga kisruh politik lokal, tanpa hambatan langsung menggoyang Indonesia. Itu artinya, para petinggi Bank Sentral Republik Indonesia atau BI, sang stabilisator harus cepat dan cermat mengambil keputusan agar ekonomi Nusantara tidak limbung. Bagaimana keseruan dan kiprah BI menciptakan iklim kondusif di sektor perbankan, terutama untuk pelaku usaha pertanian? Mari simak obrolan menarik Yunita Resmi Sari, Direktur BI yang akrab disapa Sari ini bersama AGRINA.

Menikmati Kerja

Masih sangat segar dalam ingatan kta, tahun lalu dunia sempat “jantungan” lantaran dua peristiwa besar mengguncang nalar. Yaitu, Brexit (Britain Exit) alias keluarnya Inggris dari Uni Eropa dan kemenangan Donald Trump atas Hillary Clinton dalam pemilihan presiden Amerika ke-45. Menurut Sari, peristiwa tersebut sangat ber imbas ke Indonesia. “Siapa yang menyangka Trump menang? Begitu menang, dia maunya American first. Apa-apa menggunakan barang Amerika. Wah, investasi bisa kebanyakan di Amerika. Bisa-bisa USD ditarik dari seluruh dunia jadi rupiah kita bisa melemah,” Direktur yang membawahi Departemen Pengembangan UMKM itu menggambarkan. Belum lagi berbagai kondisi domestik turut menggoyang stabilitas perekonomian. Kendati demikian, perempuan asal Bogor, Jawa Barat ini begitu menikmati pekerjaannya. “Nggak pernah bosan di sini,” cetus Sari. Walaupun dipenuhi berbagai tantangan berbeda-beda setiap saat, ia me negaskan, “Pasti, kita harus yakin ada jalan keluarnya.” Berlatar belakang Sarjana Teknologi Industri Pertanian lulusan IPB juga tidak menggentarkan langkah Sari mendalami karir bidang perbankan. Justru dia bersyukur bekal ilmu pertanian itu sangat terasa manfaatnya dalam membuat keputusan sehingga menjadi nilai tambah.

Tantangan Terbesar

Sari menjelaskan, BI berkewajiban menjaga kestabilan nilai rupiah, baik terhadap barang dan jasa maupun mata uang negara lain. Tantangan utama yang dihadapi adalah mengelola komoditas volatile food alias komoditas pangan yang harganya sangat bergejolak sehingga berkontribusi besar pada laju inflasi. Terutama, komoditas pertanian seperti beras, cabai, bawang merah , bawang putih, dan daging sapi. Belum lagi, pelaku usaha pertanian kebanyakan kalangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang sulit dalam akses pembiayaan. Magister Bisnis Administrasi jebolan Melbourne University, Australia ini mengemukakan, harga komoditas volatile food masih sangat bergejolak. BI tidak bisa membiarkannya terus berlanjut. Mendukung kementerian terkait, BI membentuk klaster komoditas volatile food melalui kan tor perwakilannya di seluruh Indonesia. Tujuannya, kata Sari, “Membantu menjaga konsistensi suplai tapi lebih ke inovasi. Misal, kita bikin inovasi di budidaya dengan teknologi, inovasi di hilir sehingga bisa diolah, disimpan lebih lama, atau bisa dilakukan perdagangan antardaerah.” BI membentuk Tim Pengelola Inflasi Daerah (TPID) di setiap wilayah Indonesia. Klaster komoditas volatile menjadi bagian TPID yang beranggotakan unsur pemerintahan yang terkait komoditas penyumbang inflasi.

Para anggota klaster pun harus paham masalah hulu-hilir pertanian. Selain itu, pihaknya mendorong pembentukan Badan Usaha Milik Petani (BUMP) agar petani lebih berdaya saing. Pada 2016 BI telah membangun BUMP bawang merah di Tegal dan Brebes, Jawa Tengah. “Kita ingin membangun supaya BUMP kuat, bikin hilirisasi agroindustri, misal bawang goreng atau pasta yang bisa disimpan di kulkas, lagi tahap bikin itu,” terang perempuan kelahiran 28 Juni 1966 ini. Meski menguntungkan, tidak semua petani menginginkan pendirian BUMP. Alasannya, di awal mereka khawatir diminta membayar sejumlah dana atau keta kutan lain karena kurangnya informasi tentang BUMP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *