Categories
Uncategorized

Raih Untung dengan Beras Premium

Pembangunan pertanian Indonesia yang tidak konsisten menuai kritik. Apalagi menilik data produksi padi dan pertumbuhan penduduk, Dwi Andreas Santosa, Guru Besar IPB, Jabar mengungkap, produksi padi meningkat drastis sejak 1985-2016. Peningkatan produksi padi pada 1985-2015 mencapai 93,17% dan pertambahan penduduk sebesar 56,86%. Sedangkan sejak 2006 sampai sekarang, pertambahan penduduk 11,95% dan peningkatan produksi padi 38,46%. “Jadi peningkatan produksi padi 3,22 kali lipat pertambahan penduduk. Harusnya kita menjadi negara nomor satu di dunia sebagai eksportir beras,” tandasnya pada seminar pangan bertajuk “From Rice Importer to Self Sufficiency: Mewujudkan Kemandirian Pangan dan Kesejahteraan Petani Melalui Pendeketan Sistem Ekonomi Pancasila” di Jakarta.

Perubahan Arah

Lestari Agusalim, pemerhati ekonomi pertanian dari Universitas Trilogi, Jakarta, menuturkan, pembangunan pertanian Indonesia mengalami perubahan signifikan sejak Orde Baru (Orba) hingga reformasi. Pertanian Orba menitikberatkan pada politik perberasan dengan target swasembada beras untuk mengatasi ancaman kelaparan pascaperistiwa politik 1965. Program itu terkesan memaksakan pe nyeragaman pangan pokok beras, mengabaikan konsumsi pangan nonbe ras seperti umbi-umbian, kacangkacang an, dan hasil perikanan, juga menimbul kan kerusakan ekologi.

Sementara kebijakan pertanian saat ini mengarah pada swasembada pangan dengan prioritas komoditas padi, jagung, dan kedelai (pajale). Sayang, ungkapnya, kebijakan pertanian sejak awal reformasi hingga kini tidak konsisten karena mengikuti visi-misi presiden terpilih sejak pemilihan langsung 2004. Lestari menyarankan program swasembada pangan tidak bersifat parsial meski ada otonomi daerah. Alasannya, “Pangan menyangkut hajat hidup orang banyak dan bisa mempengaruhi eksistensi bangsa,” tandasnya.

Varietas Lokal

Muhamad Karim, Dosen Fakultas Bio indus tri Universitas Trilogi menyoroti pentingnya mengembangkan paradigma politik pangan atau swasembada beras bersifat multikomoditas sesuai keberagam an daerah secara geografis, etnobiologi maupun etnografi. Sebab, Indo nesia memiliki banyak varietas padi dan komoditas nonpadi yang bisa dikembangkan menggunakan teknologi pertanian sehingga produktivitasnya meningkat. Paling tidak, ucapnya, “Ada benih-benih unggul baru hasil persilangan yang muncul di berbagai daerah sebagai sumber kekayaan plasma nutfah dan pangan pokok baru.” Dengan demikian, varietas pangan baru akan muncul dan memperkaya sumber pangan Indonesia.

Seperti yang dilakukan Bingah Utomo. Direktur PT Comar co Sinergi ini memproduksi beberapa benih padi unggul varietas lokal dan hibrida, seperti padi aromatik Bawor dan Sekonyer, serta padi unggul MSP 01, MSP 13, dan MSP 08. “Petani tanamlah beras premium yang lokal Indo nesia. Dengan rata-rata pro duksi 7-8 ton GKP/ha, petani bisa menjual berasnya dengan harga Rp15 ribu-Rp17 ribu/kg,“ jelasnya. Sedangkan Andreas menawarkan pertanian agroekologi, yaitu model pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan. Model ini menggunakan padi galur murni, pupuk hayati, dan teknologi karya petani. Menurut Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) itu, pertanian agroekologi berkembang di 13 kabupaten di Pulau Jawa dengan benih rakitan sendiri, IF8 (Indonesian Farmer No. 8). “Produktivitasnya meningkat. Hasilnya rata-rata 10,26 ton GKP/ha atau sekitar 8 GKG ton/ha, sedang kan petani lain sekitar 6,52 ton GKP/ha,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *